Aku

Kamis, 11 Februari 2010

KAJIAN UNSUR INTRINSIK PUISI DALAM ANTOLOGI PUISI “HUJAN BULAN JUNI” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO UNTUK DIJADIKAN BAHAN MUSIKALISASI PUISI

KAJIAN UNSUR INTRINSIK PUISI DALAM ANTOLOGI PUISI

“HUJAN BULAN JUNI”

KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO UNTUK DIJADIKAN BAHAN

MUSIKALISASI PUISI

(diajukan untuk pengajuan judul skripsi)

oleh

Usman Nurdiansyah

056300

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

A. Latar Belakan Penelitian

Perkembangan dunia sastra khususnya puisi di Indonesian telah mengalami berbagai masa atau zamannya. Pada setiap zamannya puisi terlihat berbeda bila dilihat dari jenis atau bentuknya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman selama puisi itu tercipta melalui melalui proses kreatif penyairnya.

Puisi secara harfiah dapat diartikan sebagai ungkapan batin seorang penyair melalui kata-kata yang dituangkan lewat tulisan dengan gaya dan ungkapan tertentu. Setiap gaya penyair dalam menciptakan karyanya berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu, di dalam memahami suatu karya sastra khususnya puisi kita dapat menyeragamkan makna yang terkait dalam puisi tersebut. Dalam hal ini tentunya kita tidak memahami sebuah puisi tanpa metode atau pendekatan terhadap puisi tersebut.

Seiring berjalannya waktu dan zaman, apresiasi terhadap puisi yang diciptakan para penyair, mengalami perubahan bentuk dan jenisnya. Para penyair mencoba menciptakan rang-ruang baru terhadap apresiasi sebuah puisi. Tetapi apresiasi sebuah puisi diapresiasikan ke dalam bentuk dan media lain untuk dapat dinikmati masyarakat. Bentuk lain dalam apresiasi puisi dapat kita jumpai di dalam seni pertunjukan, seperti dramatisasi puisi, baca puisi, dan musikalisasi puisi.

Apresisasi yang disebutkan di atas merupakan proses kreatif seseorang terhadap karya sastra khususnya puisi. Tentunya bentuk lain dari apresiasi yang diciptakan oleh penyair dan musisi adalah bentuk mengembangkan apresiasi puisi di masyarakat agar dinikmati dan dipahami. Ada pun yang akan penulis teliti dari bentuk apresiasi di atas yaitu musikalisasi puisi.

Muskilasiasi puisi merupakan salah satu jalan untuk mengapresiasikan sebuah puisi. Peranan musikalisasi puisi dalam sejarah sastra di Indonesia memiliki andil penting bagi perkembangan sastra khususnya puisi, tentunya akan tercapai jika pengenalan puisi itu sendiri menggunakan cara atau metode yang dapat diterima di masyarakat.

Penulis memilih judul “Kajuan Unsur Intrinsik Puisi dalam Antologi Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Sebagai Bahan Musikalisasi Puisi” berawal dari keingintahuan penulis tentang perkembangan kesusastraan Indonesia yang memiliki bentuk dan ruang yang baru. Dengan hadirnya musikalisasi puisi sebagai genre sastra Indonesia. Dan penulis akan meneliti sejauh mana proses penggarapan musiklaisasi puisi.

B. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis mebatasai masalah pada pendekatan kajian unsur intrinsik puisi dengan menggunakan teori struktural dan lainnya yang relevan.

C. Rumusan Masalah

Dari apa yang dipaparkan penulis sebelumnya, berikut penulis memaparkan rumusan masalah diantaranya sebagai berikut:

a. Bagaimana unsur-sunsur intrinsik dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya sapardi Djoko Damono.

b. Bagaimana kosep dan kriteria musikalisasi puisi.

c. Apakah puisi yamg terdapat dalam antologi puis Hujan Bulan Juni karya sapardi Djoko Damono sesuai dengan konsep dan kriteria musikalisasi puisi.

D. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian tentunya sangat mendukung sekali dalm penulisan proposal ini, penulis mempunyai tujuan agar apa yang penulis maksud dapat tercapai. Ada pun penulis perinci sebagai berikut:

a. Untuk mendapatkan gambaran tentang kriteria puisi yang tepat untuk dimusikalisasikan.

b. Untuk mengetahuai kesesuaian secara teoritik puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono dan musikalisainya.

c. Memantapkan teori musikalisasi puisi di Indonesia yamg masih minim.

E. Manfaat penelitian

Dengan tercapainya tujuan di atas, penulis mengharapkan penelitian ini memilki manfaat. Adapun manfaat yang akan penulis rinci mengenai musikalisasi ini diantaranya sebagai berikut:

a. Sebagai penambah wawasan dan cakarawala pengetahuan bagi penulis, pembaca dan lembaga terkait.

b. Sebagai penambah pembendaharaan di perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia khususnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.

c. Sebagai bahan masukan bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni.

d. Untuk kepentingnan pengembangan sastra Indonesia khususnya puisi di lembaga-lembaga terkait.

F. Definisi Oprasional

1. Kajian adalah hasil mengkaji sedangkan intrinsik adalah hasil mengkaji dengan menggunakan unsur-unsur yang ada dalam cerita.

2. Antologi puisi adalah kumpulan-kumpulan puisi.

3. Hujan Bulan Juni: sebuah judul antologi puisi karya Sapardi Djoko Damono tang sebagian puisi-puisi di dalamnya berhasil dimusikalisasikan.

4. Musikalisasi puisi: upaya untuk menonjolkan unsur musikal, sehingga sebagai karya sastra bebentuk puisi dapat lebih jelas. Atau untuk lebih jelasnya mengubah puisi menjadi lagu.

G. Kajian Teori

1. Puisi

1.1 Pengertian puisi

Dalam kamus istilah sastra, (1994:156), memaparkan makna puisi secara luas, seperti yang tertera di bawah ini:

(1) Ragam bahasa yang bahasanya terikat oleh irama dan tata puitika yang lain; (2) gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam akan kesadaran akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama dan makna khusus; (3) sajak (poezie, Belanda). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1988:706), “puisi dimaknai sebagai ragam bahasa yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima, serta penyusunan bait dan larik.”

1.2 Unsur-unsur Pembangunan Puisi

a) Bunyi

Rachmat Djoko Pradopo, (1982:22), memaparkan tentang pengertian bunyi yang bersifat estetik, sebagaimana yang tertera di bawah ini:

Dalam puisi yang bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan tenaga ekpresif. Bunyi ini erat hubungannya dengan anasir-anasir musik, misalnya: lagu, melodi, irama dan sebagainya. Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus dan sebagainya.

Atmazaki, (1993:77), menjelaskan tentang pentingnya keberadaan unsur bunyi dalam sajak, sebagaimana dikemukakan di bawah ini:

Bunyi adalah sesuatu yang sangat penting dalam sajak atau puisi karena bunyi efek dan kesan tersendiri. Ia memberikan penekanan, menyarankan makna dan suasana tertentu. Para pendengar sajak akan merasakan sesuatu yang mungkin tidak terdapat pada makna kata, tetapi disarankan oleh bunyi. Kata harimau mungkin tidak menakutkan. Tetapi bunyi aauuumm justru menimbulkan kengerian. Begitulah bunyi dalam sajak; ia justru menyemantikan bunyi itu walaupun secara fonologis ia tidak berbentuk kata.

Slamet Muldjana, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1993:22), memaparkan tentang keberadaan puisi dalam teori simbolisme terdapat unsur intrinsik, sebagaimana dikemukakan di bawah:

Dalam teori simbolisme, tugas puisi adalah mendekati kenyataan ini, dengan cara tidak usah memikirkan arti katanya, melainkan mengutamakan suara lagu, irama,dan rasa yang timbul karenanya dan tanggapan-tanggpan yang mungkin dibangkitkan. Baik dalam aliran simbolisme maupun romantik arti kata terdesak oleh bunyi atau suaranya. Dengan begitu kesusastraan telah kemasukan aliran seni musik.

Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, (1999:169), menjelaskan pengertian bunyi dalam arti luas diantaranya:

(1) Sesuatu yang kedengaran atau dapat didengar (bunyi bisanya dibedakan dengan suara; suara dihasilkan oleh manusia); misal,terdengar suara meriam berdentuman: sebagai bunyi burung tekukur; (2) laras atau nada (pada gamelan, alat musik atau sebagainya); misalkan terdengar gesekan-gesekan biola yang merdu-nya; (3) bagaikan suara yang dihasilkan oleh alat-alat bicara; misalnya, dalam bahasa Jepang – n dan ng pada akhir kata, hampir tiada bedanya; (4) ucapan dari apa yang tertulis (surat, huruf, dan sebagainya); misal, bagaimana suara itu; huruƒ ƒ χ ini bagaimana –nya; artikel 15 begini –nya; -bahasa, bagaimana bunyi yang dipakai dalam suatu bahasa; geser, bagaiman bunyi yang diadakan melalui celah yang sempit, sperti huruf ƒ, -janggal, bunyi yang tidak selaras (sumber, bercampur tak sedap didengar); -kembar, bagai dua bayi yang senyawa yang diucapkan sebagai suatu bunyi, seperti au; diftong –letus, bagai bunyi yang diadakan oleh udara melalui cekah tertutup lalu terbuka, seperti bunyi p; - sengau, bagaimana bunyi melalui hidung, seperti bunyi –ng; huruƒ-, vokal; serta –‘ bagai bunyi huruf mati seperti b, t, d, dan sebagainya; -konsonan; cina karam, bahasa percakap riuh rendah (ramai sekali, hiruk-pikuk; (bagai) –siamang kenyang pr, banyak cakapnya dan sebagainya karena mendapat kesenangan; sebunyi: sama bunyinya; missal ~dengan keputusan menteri tanggal 15-6-54; kata ~, kata yang sama laƒalnya , tetap lain artinya; bunyi-bunyian; alat perkakas dipakai untik mengadalkan lagu seperti musik, gamelan dan sebagainya; berbunyi: (1) mengeluarkan bunyi: kalau tombol ini kau pijit, seketika itu juga ~bel itu; (2) lafalnya...; ucapannya...; misalnya, aturan pasal satu~ begini; membunyikan; (1) membuat (meniup, memukul dan sebagainya) supaya berbunyi: misalnya ~ gong; ~ suling; (2) menyebutkan (melafalkan, melisankan dan sebgainya) tulisan huruf dan sebagainya; misal huruƒ I dalam bahasa Inggris dibunyikan ai.

Ada beberapa macam bentuk bunyi yang sering muncul dalam sakjak atau puisi, diantaranya:

b) Rima

Atmazaki, (1993:80), memaparkan tentang pengertian rima, seperti yang dikemukakan di bawah ini:

Rima adalah persamaan bunyi akhir kata. Bunyi itu berulang secar terpula dan biasanya terdapat di akhir sajak, tetapi kadang-kadang terdapat di awal atau di tengah baris. Oleh karena itu rima berkaitan dengan baris, maka rima sebuah sajak dilihat pada persamaan bunyi antara baris atau dengan baris yang lain. Dan dengan sendirinya pembicaraan rima terbatas pada sajak yang mengutamakan unsur formal sajak (bait dan baris). Rima ditandai dengan abjad, misalnya: ab-ab, cde-cde, a-a; b-b dan lain-lain.penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e, f dan seterusnya.

Abrams, (1971:150), memaparkan tentang jenis rima, seperti yang tertera di bawah ini.

Bahwa rima menyangkut bunyi vokal – huruf hidup – yang diberi tekanan bunyi yang mengikuti vokal itu. Ia juga menyebutkan beberapa jenis rima, diantaranya: rima akhir ‘end rymes’ adalah rima yang terdapat di akhir sajak. Sedangakan rima yang terdapat di dalam baris sajak ‘internal rymes’ adalah rima yang terdapat di dalam baris sajak. Selanjutnya rima jantan ‘masculine rymes’, yaitu rima yang terdiri dari suku kata yang mendapat tekanan; sedangkan rima betina ‘feminine rymes’, adalah rima yang terdapat pada kata yang terdiri dari suku kata atau lebih, suku kata yang pertama mendapat tekanan. Rima betina yang tidak terdapat pada kata bersuku kedua tersebut ‘double rymes’. Keduanya dalam bahasa Indonesia disebut rima ganda. Rima akhir terdapat pada “Sajak Putih”, yaitu pandangan; pelangi-melati; senja-senda; tiba-jiwa; terbuka-luka; dan mengadah-membelah. Rima awal dan menengah.

c) Aliterasi dan Asonansi

Luxemburg, dalam Atmazaki, (1993:83), menjelaskan tentang fungsi aliterasi dan aonansi, seperti yang dipaparkan di bawah ini:

Aliterasi atau asonansi berfungsi menentukan kesan tertentu atau style bagi seorang penyair. Di samping itu keduanya juga untuk memberikan hubungan tertentu terhadap kata-kata sebaris terlepas dari hubungan semantik biasanya dalam menentukan struktur irama sebuah baris serta tekanan tambahan terdapat kata-kata bersangkutan.

Atmazaki, (1993:82), menjelaskan tentang aliterasi atau asonansi, seperti yang dikemukakan di bawah ini.

Perasaan bunyi itu dapat berupa persamaan bunyi vokal, dapat pula berupa persamaan bunyi konsonan. Pengulangan bunyi dalam suatu rangkaian kata-kata yang berdekatan –dalam satu baris –berupa bunyi konsonan disebut alitersi; sedangkan yang berbunyi vokal tersebut asonansi. Keduanya baru disebut aspek bunyi yang penting dalam sajak, kalau keduanya muncul secar terpola dan dominan.

d) Anafora

Menurut Kridalaksana, (1985:10), menjelaskan “anafora adalah pengulangan bunyi, kata atau unsur sintaksis pada larik-larik atau kalimat-kalimat yang berurutan untuk memperoleh efek tertentu.

Menurut atmazaki, (1993:86), menjelaskan penciptaan anafora bertujuan untuk mepertegas efek retorik dalam sajak, memberi penekanan bahwa yang diulang itu adalah suatu yang sangat penting dalam kaitan sajak.

e) Onomatope

Kridalaksana, (1982:116), “Onomatope adalah penanaman benda atau perbuatan dengan peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau benda itu, misalnya: berkokok, deru, desau, cicit, dengung, dan sebagainya.”

Atmazaki, (1993:88), memaparkan tentang onomatope dalam sebuah sajak, sebagaimana yang dikemukakan di bawah ini:

Onomatope dalam sebuah sajak sangat berperan sabagi pemberi saran kepada makan yang sesungguhnya. Dengan kata-kata atau bunyi tersebut orang akan mengetahui apa atau perbuatan apa yang dimaksudkan dan memperjelas tanggapan terhadap suatu perbandingan –tiruan bunyi itu sebenarnya juga perbandingan bunyi. Dalam kaitan ini, onomatope penting dan bermakna dalam sajak selalu dicari yang asing, yang tidak biasa dalam pengucapan bahasa biasa. Justru pada pengasingan ini sajak mendapat makna lebih sekedar arti biasa.

f) Irama dan Metrum

Atmazaki, (1993:93), memaparkan tentang pengertian irama dan metrum, seperti yang dikemukakan di bawah ini:

Di samping irama, di dalam sajak dikenal pula apa yang disebut metrum. Sebenarnya metrum bagian dari irama. Apabila irama tersusun –terjadi dari suatu perulangan unit-unit yang teratur, maka ia disebut metrum. Metrum bersandar atau tergantung suku-suku kata yang tidak bertekanan. Suku-suku kata itu muncul secara berpola dan berulang-ulang.

Teeuwe, (1983:23), menjelaskan perbedaan kedudukan metrum dan irama dalam sajak Indonesian dan barat, sebagaimana dikemukakan di bawah:

Bahwa masalah irama belum ada yang tahan uji dalam bahasa Indonesia. Satuan yang merupakan larik dalam bahasa Indonesia adalah kata, sementara sajak Indonesia bersandar pada kata, makna metrum hanya terdapat dalam sajak barat, tidak dalam sajak bahasa Indonesia. Dalam sajak bahasa Indonesia, metrum hanya ciptaan penyair-penyair tertentu –kemampuan penyair, bukan potensi satu dengan penyair yang lain.

g) Kata

Slamet Muldjana, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:48), memaparkan tentang pengertian kata, sebagaimana yang dikemukakan di bawah:

Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata. Dalil seni sastra. J. Elema menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata. Kata yang digunakan penyair disebut kata berjiwa. Dalam kata berjiwa ini sudah dimasukan perasaan-perasaan penyair, sikap terhadap sesuatu.... Pengetahuan tentang kata jiwa disebut stilistika sedangkan pengetahuan kata-kata sebagai kesatuan yang satu lepas dari yang lain disebut leksikografi. Kata berjiwa sudah tetap artinya, sudah mengandung jilmaan rasa dan cipta rasa penciptaanya.

Ada beberapa unsur kata yang terkandung dalam karya sastra, diantaranya:

1. Kosa kata

2. Pilihan kata

3. Denotasi dan konotasi

4. Bahasa kiasan

5. Citraan

6. Gaya bahasa dan sarana retorika

7. Factor ketatabahasaan

Untuk lebih jelas lagi, di bawah ini penulis akan memaparkan tentang unsur-unsur kata sebagaimana yang tertera di atas.

· Kosa kata

Atmazaki, (1993:31), memaparkan tentang pengertian kosa kata dan fungsinya sebagaimana yang tertera di bawah ini:

Kosa kata adalah alat untuk berkomunikasi; untuk menyampaikkan pikiran dan perasaan; menguasai dunia; dan bahkan untuk berpikir sendiri. Kata adalah untuk memanggil yang gaib; untuk berdoa; wahyu diturunkan dengan kata; dan segala macam aspek kehidupan, mulai dengan meninabobokan anak sampai suatu yang filosofis, menggunakan kata. Implikasinya, kata tidak dapat tidak bermakna. Ia mesti mengemban arti tertentu meskipun ian dipermaiankan sehingga menimbulkan arti bahasa secara konvensional. Andaikan kata tidak mengemban arti tertentu, maka saat itu juga berhenti sebagai kata atau bahasa adalah dwi-tunggal bentuk –arti ‘form meaning.’

Hasanudin WS, (2002:98), menyimpulkan, “ bahwa kosa kata adalah sarana bahasa yang perhatian khusus oleh penyair, karena ia harus memlih kosa kata yang tepat untuk mewakili idenya.”

· Pilihan kata

Sudjiman, (1984:19), menjelaskan. “bahwa kegiatan kata setepat mungkin untuk mengungkapkan gagasan disebut dengan diksi. Diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan kata bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan atau peristiwa.”

Barfield, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:58), mengemukakan, “bahwa bila kata-kata dipilh dan disusun secara sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis.”

· Denotasi dan Konotasi

Altenbernd, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:58), menjelaskan, “bahwa sebuah kata itu mempunyai aspek arti, yaitu denotasi, ialah arti tambahannya. Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya, yaitu pengertian yang menunjukan benda atau hal yang diberi nama dengan kata itu, disebutkan atau diceritakan.

Kridalaksana, (1982:32), menjelaskan pengertian denotasi dan konotasi di bawah ini.

Dalam upaya memilih kata penyair, memanfaatkan kemungkinan-kemingkinan arti sebuah kata. Dalam hal ini dikenal dua macam arti penggunaannya cukup dominan: denotasi dan konotasi. Denotasi adalah makna atau kelompok kata yang didasarkan konversi tertentu; sifat objektif... sedangkan konotasi adalah yang bersifat subjektif –konotasi adalah sebuah kata yang dapat berbeda bagi setiap orang; kata terbaring dapat berkonotasi tertidur lelap, tak berdaya dan mungkin juga mati.

· Bahasa Kiasan

Atmazaki, (1993:49), memaparkan tentang pengertian bahwa bahasa kiasan atau majas, seperti yang dikemukakan di bawah ini:

Bahasa kiasan atau majas ‘figuratife languange' ternasuk pada ketidak langsungan ucapan berupa pengertian arti. Sebuah atau sekelompok kata menyandang arti denotasi tapi arti lain karena telah dimasuki unsur-unsur tertentu. Bahasa kiasan muncul sesuai kebiasaan suatu masyarakat. Oleh sebab itu, tidak ada sederetan bahasa kiasan untuk melukiskan suasana atau peristiwa tertentu, sehingga hal yang sama dilukiskan dengan majas yang berbeda oleh kelompok masyarakat yang berbeda pula.

Rachmat Djoko Pradopo, (1987:61-62), memaparkan bahasa kiasan dalam sebuah puisi, sebagaimana dikemukakan di bawah ini:

Unsur kepuitisan yang lain, untuk mendapatkan kepuitisan adalah bahasa kisan ‘figuratife languange'. Adanya bahasa kiasan ini menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan ini megiaskan atau mempersamakan suatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik dan hidup.

Alltenberend, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:79), mengatakan tentang jenis bahasa kiasan, sebagaimana yang dikemukakan di bawah ini:

Bahasa kiasan ada bermacam-macam, mempunyai suatu hal (sifat) yang umum yaitu bahasa kiasan-kiasan tersebut mempertalikan suatu dengan cara menghubungkannya dengan suatu yang lain.

Jenis-jenis bahasa kiasan tersebut adalah:

(1) Perbandingan (simile)

(2) Perumpamaan (epic simile)

(3) Metafora

(4) Personifikasi

(5) Metonimi

(6) Sinekdoki

(7) Alegori

· Citraan

Rachmat Djoko Pradopo, (1987:79), mengatakan tentang arti citraan di dalam puisi, sebagaimana dikemukakan di bawah ini:

Dalam puisi, memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkkan suasana yang khusus, untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam (pikiran), di sampimg alat kepuitisan yang lain. Gambaran-gambaran dalam sajak disebut citraan (imagery). Citraan ini adalah gambaran-gambaran dalam pikiran dan bahasa yang mengambarkannya.

Hasanudin WS, (2002:10), memaparkan tentang permasalahan citraan atau pengimajian dan jenisnya, sebagaimana yang dikemukakan di bawah ini:

Pada hakikatnya, permasalahan citraan atau pengimajinasian masih berkaitan dengan diksi. Artinya, pemilihan terhadap kata tertentu akan menyebakan daya bayang pembaca terhadap suatu hal. Daya bayang (imaji) pembaca tersentuh, karena dari beberapa indera dipancing untuk segera membayangkan sesuatau leawat daya bayang yang dimilki pembaca. Daya bayang ini tentu saja tergantung kepada kemampuan masing-masing pembaca. Jenis citraan dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk, diantaranya:

(1) Citraan penglihatan (visual imagery)

(2) Citraan pendengaran (auditory imagery)

(3) Citraan penciuman (smell imagery)

(4) Citraan rasaan (taste imagery)

(5) Citraan rebaan (tactile imagery)

(6) Citraan gerak (kinaesthetic imagery)

· Gaya Bahasa dan Sarana Retorika

Slamet Muldjana, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:93), menjelaskan, bahwa cara menyampaikan pikitran atau perasaan atau pun maksud-massud lain menimbulkan bahasa. Gaya bahasa adalah suasana perkataan yang terjadi karena perkataan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan sesuatu perasaan tertentu dalam hati pembaca.

Alltenberend, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:93), mengatakan bahwa sarana retorika rerbagi dalam beberapa jenis, seperti yang dikemukakan di bawah ini:

Corak-corak tau jenis-jenis sarana retorika setiap periode itu ditentukan atau sesuai dengan gaya sajaknya, aliran, paham, serta konvensi dan konsepsi estetikanya yang menghendaki keseimbangan yang simetris dan juga aliran romantik ang penuh dengan perasaan. Maka sarana retorika yang dominan adalah tautology, pleonasme, keseimbangan retorika retisense, pararelisme, dan penjumlahan (eunumaresi).

Sarana retorika yang tidak dapat dipergunakn dalam puisi-puisi pujangga baru, diantaranya: paradoks, hiperbola, pertanyaan retorik, klimaks, dan kiasmus. Di dala angkatan 45, sesuai denga aliran realisme dan ekpresianisme, banyak menggunakan sarana retorik yang bertujuan intensitas dan ekpresivitas. Sedangkan sajak-sajak berisi pemikiran atau filsafat banyak menggunakan sarana retorika, paradoks, dan kiasmus.

· Faktor Ketatabahasaan

Abrams, (1971:133), memaparkan tentang kebebasan bersbahasa yang digunakan penyair, sebagiamana dikemukakan di bawah:

Licentia, poetica atau poetic licence diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kebebasan sastrawan, terutama penyair. Kebebasan itu diartikan sebagai kebebasan yang deberikan kepada sastrawan untuk memanipulasai penggunaan bahasa untuk menimbulkan efek tertentu ke dalam karyanya. Kebebasan itu misalnya dalam menciptakan anakronisme, sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan anakronisme, sastrawam melukiskan seolah-olah memang pernah terjadi, padahal kalu dilihat memlaui sejarah, sesuatu itu tidak ada. Umpamanya dalam naskah drama Julius Ceasar tertulis ungkapan jam untuk menunjuk waktu, padahal waktu itu –sewaktu kaisar Julius Ceasar masih hidup- jam belum ada.

2. Muskalisasai Puisi

2.1 Definisi Musikalisasi Puisi

Lukman Hakim, (1996:63), menjelaskan tentang pengertian musikalisasi puisi, seperti yang dikemukakan di bawah ini:

Musikalisasi puisi upaya untuk menonjolkan unsur musikal, sehingga sebagai karya sastra bebentuk puisi dapat lebih jelas lagi di depan khalayaknya, jadi unsure musikal merupakan jembatan bagi khalayak untuk ‘berhubungan’ dengan sajak.

Dedi S. Putra, dala Fredie, (1996:14), berpendapat tentang pengertian musikalisasi puisi yang dikemukakan di bawah ini:

Musikalisasi puisi sebagai bentuk apresiasai puisi adalah: ungkapan musikal: instrument, melodi, dan nyayian ucapan. Nuansa makna kata; ekplisit dan implisit. Penghayatan menjadikan puisi mendapat kemampuan ekstra untuk berkomunikasi karena pencarian yang diciptakan.

Andrie S. Putra, dalam Fredie, (1996:16), mengatakan “bahwa musikalsasi puisi adalah satu bentuk ekpresi sastra, puisi dengan melibatkan beberapa unsur seni, seperti: irama, bunyi, (musik), gerak (tari).”

Antilan Purba, (1998:4), menjelaskan “bahwa musikalisasi puisi adalah mengubah puisi menjadi lagu.” Sedangkan menurut Brani Nasution, (2004:4), menjelaskan “bahwa musikalisasi puisi adalah memusikan atau mengubah citra puitik menjadi musikal dari sebuah puisi.”

Agus S Sarjono, (2004:1), menjelaskan pengertian musikaslisasi puisi sebagi berikut: “ musikalisasi puisi adalah mengubah musiklaitas pada puisi menjadi lebih tersa, menjadi suatu music yang bias didengar.”

Fikar W Eda, (2004:1), memaparkan tentang pemahaman musikalisasi puisi sebagai berikut:

Karya sastra pada dasarnya memerlukan ekpresi. Biasanya sastra dibaca, namun adapula diekpresikan dalam bentuk seni rupa. Musikalisasi puisi ini merupakan salah satu bentuk ekpresi yang lain, yakni menggunakan unsur-unsur bunyi yang lebih kuat untuk mengekpresikan puisi. Kalau selama ini puisi dibaca secara oral, musikalisasi puisi ini merupakan salah satu bentuk ekpresi yang lain, yang disampaikan dengan menggunakan medium musik/instrumens musikalisasi adalah adalah salah satu bentuk ekpresi alternative yang sangat bagus untuk memahami karya sastra.

Dalam Kamus Kta-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, (2003:237), dijelaskan, “bahwa musikalisasi puisi adalah hal untuk menjadikan agar bersifat musik.”

2.2 Komponen-komponen Musikalisasi Puisi

Di dalam muskalisasi puisi juga terdapat komponen-komponen, hanya saja sebagian komponen terdapat juga di dalam unsur intrinsik. Tetapai ada komponen yang tidak terlupakan di dalam musikalisasi puisi yakni musik. Berikut definisi musik seagaimana dipaparkan di bawah:

1. Musik

Menurut ensiklopedi Nasional Indonesia, (1990:412), dijelaskan “bahwa musik adalah sebuah letusan ekpresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi.”

Remi Silado, dalam Sadewa, (2001:1), mengatakan secara etimologi, sebagaimana yang dikemukakan di bawah:

Musical barasal dari bahasa Yunani “Ousike” yang diambil dari mitologi Yunani kono, mousa, yang memimpin seni dan ilmu mousa ini adalah Sembilan dewi yang menguasai ilmu-ilmu seni dan ilmu pengetahuan. Kesembilan dewi ini adalah Clio, Thalia, Melponeme, Theirpichore, Erato, Polyhymnia, Caliope, Urania, dan Utrpe.

Jhone Tasker Howard and James Lyons, dalam Ben M. Pasaribu, (2001:1), menjelaskan “music however, is a living language; or rather, good music is” artinya, musik adalah bahasa yang hidup, bahkan musik yang baik adalah bahasanya yang hidup.”

Menurut Ben M. Pasaribu, (2001:1), memaparkan tentang pengertian musik yang berkaitan dengan bahasa, sebagaimana diekemukakan di bawah.

Sebagaimana bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan isi hatinya dan persaan kepada orang lain, demikian musik sebagai alat untuk memanifestasikan isi hatinya... musik adalah bahasa yang dimusikan atau dinyanyikan. Musik atau lagu memang dirangkai dari nada-nada, tetapi jika nada-nada yang dipakai itu memberikan gagasan yang bermakna barulah dapat dikatakan musik. Maka musik adalah rangkaian nada-nada yang memberikan gagasan atau ide.

Metode penelitian

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1990:581), metode penelitian adalah cara mencari kebenaran dan azas-azs gejala alam, masyarakat, berdasarkan pilihan ilmu yang bersangkutan. Dalam hal ini Fuad Hasan, (1985:7), berpendapat bahwa: “Metode adalah cara atau jalan. Dalam konteks ilmiah netode adalah cara kerja untuk memahami objek yang menjadi saran ilmu tertentu.”

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode penelitian merupakan sisitematis untuk melakukakn penelitian, maka penelitian yang akan direncanakan akan tersususn sevara sempurna sesuai rumusan-rumusan yang telah ada.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis yaitu metode yang delakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusun dengan analisis.

1. Sumber Data

Sember data dari penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data premier dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari literatur yang berisi pendapat para ahli yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Sedangkan data premier diperoleh dari angket pertanyaan dan karya dalam bentuk kaset dan teks puisi.

2. Alat Pengumpulan Data

Data adalah bagian terpenting dari suati penelitian, kerena data inilah yang diolah, dianalisis untuk mendapatkan hasil penelitian. Sedangkan dalam pengumpulan data, tentunya alat sangat penting untuk kelangsungan sebuah penelitian. Ada pun alat yang dipakai untuk mengumpulkan dat. Dalam pengumpulan ini penulis sendiri dengan menggunakan alat bantu berupa lembaran angket, telepon, dan keset.

3. Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Mendata pendapat tentang musikalisasi puisi.

2. Mengelompokan informasi tentang proses penggarapan secara sistemastis.

3. Mengumpulkan data dan menganalisis tentang penggarapan musikalisasi puisi.

Kajian Analisis

Dari teori yang dipaparkan di atas, penuslis mencoba menganalisis unsur-unsur intrinsik puisi-puisi yang terdapat di dalam antologi puisi “ Hujan Bulan Jun”: karya Sapardi Djoko Damono yang sudah dimusikalisasikan. Berikut sebagian uaraian judul puisi yang terdapat di dalam antologi puisi “ Hujan Bulan Jun” yang sudah dimusikalisasikan:

1. Hujan Bulan Juni

2. Pada Suatu Hari Nanti

3. Aku Ingin

1. Analisis antologi puisi Hujan Bulan Juni khususnya puisi-puisi yang sudah dimusikalisasikan

Sebagaimana teori tentang puisi dan musikalisasi puisi yang dipaparkan sebelumnya. Berikut ii analisis puisi Hujan Bulan Juni.

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

(1989)

a. Bunyi

Unsur bunyi dalam puisi, pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagi berikut. Dilihat dari segi bunyi itu sendiri dikenal adanya sajak sempurna, sajak paruh, aliterasi, dan asonansi. Dari posisi kata yang mendukungnya dikenal adanya sajak awal, sajak tengah, (sajak dalam), dan sajak akhir. Berdasarkan hubungan antar baris tiap bait dikenal adanya sajak merata (terus), sajak berselang, sajak berangkai, dan sajak berpeluk. Kadang-kadang berbagai macam perulangan bunyi (persajakan) tersebut dapat ditemukan dalam sebuah puisi.

b. Rima

Penulis sudah memeparkan tentang pengertian rima. Namun rima yang terdapat dalam atntologi puisi Hujan Bulan Juni terdapat di dalam judul puisi “Pada Suatu Hari Nani.”

Pada Suatu Hari Nati

Pada suatu hari nanti a

Jasadku tak ada lagi a

Tapi dalam bait-bait sajak ini a

Kau tak akan kurelakakn sendiri a

Pada suatu hari nanti a

Suaraku tak terdengar lagi a

Tapi diantara larik-larik sajak ini a

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti a

Impianku tak dikenal lagi a

Namun di sela-sela huruf sajak ini a

Kau takkan letih-letihnya kucari a

Rima yang terdapat puisi di atas adalah a-a-a-a. Tapi bukan berarti puisi yang tidak ada rimanya tidak dapat dimusikalisasikan. Hanya saja bangaimana kita mengekplor puisi ke dalam bentuk lagu atau musik sehingga puisi tetap utuh atau tidak merusak estetika puisi tersebut.

c. Anafora

Anafora pada puisi Hujan Bulan Juni sangat tampak dan dominan. Dalam puisi tersebut banyak menggunakan pengulangan kata, misal pada baris pertama, kedua, dan ketiga menggunakan lari-larik serupa seperti pada kutipan sajak berikut ini: / tak ada yang lebih tabah/dari hujan bulan juni (bait pertama), /tak ada yang lebih bijak / dari hujan bulan juni (bait kedua), / tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan juni (bait ketiga).

d. Metafora

Metafora ini bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tida mempergunakan kata-kata perbandingan, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Seperti yang terdapat di dalam judul puisi “Aku Ingi” Sapardi Djoko Damono.

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dalam sajak di atas menjelaskan bahwa cara untuk mencintai doiwujudkan dengan kata yang tak sempat diucapkan ........begitu juga dengan bait kedua. Tetapi setelah kata /sederhana/tidak menggunakan kata seperti, bagai, laksana, dan lain-lain. Melainkan menggunakan kata/dengan/.

Hubungan metafora dengan musikaliasai puisi sangat penting karena objek musikalisasi puisi yaitu puisi itu sendiri.

e. Denotasi dan Konotasi

Sebuah kata itu mempunyai dua aspek arti, yaitu denotasi, ialah artinya yang menunjuk dan konotasi, yaitu artinya tambahan. Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya, yaitu pengertian yang menunjuk benda atau hal yang laindiberi nam kata itu, disebutkan atau diceritakan. Bahasa yang denotative adalah bahasa yang menunjuk kepada korespondensi satu lawan satu antara tanda (kata itu) dengan (hal) yang ditunjuk. Seperti tang terdapat dalam judul puisi “Pada Suatu Hari Nanti”/tapi dalam bait-bait sajak ini/kau tak akan kurelakan sendiri. Dalam puisi tersebut kata sajak dijadikan pegangan kalau saja sajak bisa membuat orang berarti.

f. Diksi

Barfield mengemukakan bila kata-kata dipilh dan disusun dengan cara yang sedemikan rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis. Jadi, diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik.

Untuk ketepatan pemilihan kata seringkali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali, yang dirasa belum tepat, bahkan meskipun sajaknya telah dipublikasikan, sering kali diubah kata-katanya untuk ketepatan dan kepadatannya. Bahkan ada baris atai kalimat yang diubah susunannya atau dihilangkan. Seperti halnya di dalam puisi Aku Ingin, pemilihan kata yang sangat tepat sebagaimana dalam penggalan puisi Aku Ingin/aku ngin mencintaimu dengan sederhana/, mungkin kata tersebut sangat sederhana, namun dengan menambahkan dengan/kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu. Puisi tersebut menjadi bermakna, yang biasanya sesuatu yang diucapkan itu keluar dari mulut, tapi dalam puisi tersebut menggunakan kayu sebagai media untik menyampaikan pesan.

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1997. A Glossary of Literari Terms. New York: Holt Rinegert and Winston, Inc.

Atmazaki, 1993, Analisis Sajak. Bandung : Angkasa.

Atmazaki, dan WS, Hasanudin. 1990. Pembaca Karya Sastra Sebagai Karya Seni Pertunjukan. Padang : Angkasa Raya.

Arsi, Fredi. 1996. Proses Musikalisasi Deavies Sanggar Matahari. Jakarta : Balai Pustaka.

Badudu, J.S. 2003. Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Kompas

Djoko Pradopo, Rachmat. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Eda, Fikar W. 2004. Musikalisasi Puisi, Ekpresi Alternatif Memahami Sastra. Jakarta : Kompas

Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990. Jakarta : Ichtiar Baru –Van Hoeve.

Kridalaksana Harimurty. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta : Dian Rakyat.

Luxemburg, Jan Van dkk. 1989. Dalam Akhdat Ikhram. Tentang Sastra. Jakarta : Internusa.

Nasution, Barani. Musikaliasasi Puisi Itu. Dalam Drap 30 November 2000, Medan. Hal. 4.

Passaribu, Ben M. 2000. Pendidikan Seni Musik. Medan : FBS Unimed.

Purba, Antilan. Musikalisasi Itu Apa?. Dalam Persada 30 Juni-6 Juli 1998, Medan, Hal, 5.

Putra, Andris, 2004. Musikalisasi Puisi Bisa Jadi Genre Yang Berwibawa. Jakarta : Balai Pustaka.

Sudjiman, P. 1990. Kamus Istilah Sastra. UI. Press : Jakarta.

Sarjono, Agus R. 2004. Musikalisasi Puisi Bisa Jadi Genre Yang Berwibawa. Jakarta : Kompas

Sutajaya, 2005. Proses Penggarapan Musikalisasi Puisi Sebagai Bentuk Kreativitas Sastra Oleh Kelompok Bimbo Dan Deavies Sanggar Matahari. Medan : Skripsi.

Teewe, A. 1984. Tergantung Pada Kata. Jakarta : Pustaka Jaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar